|

Hari masih pagi, jam menunjukkan pukul 06.30, matahari masih malas menampakkan dirinya. Suasana dingin dan kabut mengiringi briefeng siswa kelas IV dan kelas V yang hari itu akan mendatangi kenduren wonosalam, acara tasyakuran warga Wonosalam yang tahun ini panen duriannya melimpah.
Tidak hanya sekedar jalan - jalan ataupun menyaksikan kemeriahan acara itu, tapi kami membawa misi KKG IPS SDIT Al-ummah, menerapkan strategi enviroment learning, belajar kegiatan ekonomi untuk kelas V dan belajar potensi daerah untuk kelas IV dari kunjungan agar anak - anak mengamati langsung dari sumbernya, tidak hanya sekedar informasi guru atau dari literatur.Kami pun sudah membahas lesson plan dan instrumen di forum KKG khususnya dengan guru IPS kelas IV, V dan VI.
Hampir 15 menit briefeng berlalu,mobil luxio telah siap, tapi mobil elf yang telah kita pesan belum nongol juga. Walhasil diputuskan bahwa kelas V yang telah janjian sama Pak Senen, camat Wonosalam, untuk wawancara sebelum jam 08.00 harus berangkat terlebih dahulu. Lagian SPPD belum jadi, sehingga Ustad Wawan, dan Ustad Shohib harus menunggu elf, menyelesaikan SPPD dan menemani kelas IV.
Saya, Ustadzah Yayuk dan Ustadzah Reny menemani kelas V meluncur ke Wonosalam dengan satu tekad menemui Pak camat sebelum jam 08.00. Kami mengambil rute Ngrimbi seperti biasanya. Mobil agak sedikit dipacu agar bisa tepat waktu. Di sepanjang jalan kami temui siswa SD negeri mengenakan seragam muslim, tidak seperti biasanya pramuka, pertanda ada acara PHBI, merayakan Maulid Nabi.
Jam dinding rumah dinas Pak Camat menunjukkan pukul 07.45, manakala kami disambut Pak Camat dirumah dinasnya. Pak Camat sedang bersiap ke lapangan untuk checking persiapan acara.Beliau bilang persiapan masih 80 %karena semalam Wonosalam diguyur hujan. Kami dipersilakan ke lapangan terlebih dahulu, wawancara dilakukan di lapangan sembari beliau melakukan pengecekan.
Sampai lapangan, ternyata lapangan masih basah, sebagian tergenang air. Kami harus memilih jalan dan cincing - cincing celana atau rok agar tidak terkena cipratan air hujan bercampur tanah merah lapangan. Kami harus merelakan sepatu kami agak berlepot tanah karena tidak bisa dicincing. Di pojok lapangan dekat panggung teronggok gunungan duren berseling dengan rambutan, apukat, manggis, pete,salak dan hasil bumi Wonosalam lainnya. Rombongan kelas IV beseta Ustad Shohib dan Ustadz Wawan telah tampak dan bergabung dengan kami. Banyak orang berfoto di depan gunungan itu sebagai kenangan telah menghadiri Kenduren Wonosalam, tak terkecuali kami. Pak Camat menyempatkan diri untuk berfoto dengan kami di depan gunungan. Siswa - siswa SD Wonosalam yang akan melakukan penanaman pohon dan minum susu terlihat lalu - lalang di depan kami.
Setelah rehat sebentar, Pak Camat mempersilakan kami untuk melakukan wawancara. Dengan duduk di kursi undangan, siswa kelas V melakukan wawancara. Siswa yang bertanya dipersilakan berdiri. Ada yang menanyakan tentang tujuan acara kenduren Wonosalam, ada juga yang menanyakan tentang potensi daerah Wonosalam. Yang menarik ketika anak - anak menyampaikan masukan untuk Pak Camat agar dibangun patung durian sebagai ikon masuk Wonosalam, Buah manggis agar juga dibudidayakan sebagaimana durian dan pentingnya website Kecamatan Wonosalam sebagai sarana informasi dan komunikasi. Pak camat dengan sabar menjawab satu persatu pertanyaan siswa kelas V, dan menanggapi masukan sambil beliau manggut - manggut. Terima kasih Pak Camat dan salut buat Anda.
Wawancara usai, kami berpamitan, tak lupa tugas pengamatan untuk kelas IV dilakukan. Mengunjungi stan dan mencatat apa saja produk Wonosalam yang dijajakan. Setelah berkeliling stan, kamipun menyerbu satu pedagang durian yang baru saja mbeber dagangannya.Siswa - siswi tampak antusias mencium, memilih dan menawar harga durian. Tak ketinggalan kami, ustadz - ustadzah, membeli durian untuk oleh - oleh keluarga ataupun rekan ustad/ustadzah yang ada di sekolah. Kami pun larut dalam suasana hiruk pikuk kenduren Wonosalam.
Matahari semakin meninggi, jam menunjukkan pukul 09.30, pengunjung mulai memadati lapangan. Saatnya kami undur diri. Dengan menjinjing durian, siswa - siswi dan ustadz - ustadzah menuju mobil elf dan luxio. Di jalan menuju mobil, keramaian orang berjalan kaki, mengendari motor dan mobil, mulai terasa. Sebentar saja kami tentu akan kesulitan keluar dari Wonosalam. Perlahan mobil Elf mulai meninggalkan jalan depan kecamatan. Mobil Luxio masih belum kelihatan. Kami sibuk mencari ditengah - tengah jalan yang semakin macet. Kami bisa masuk Luxio akan tetapi sudah terjebak kemacetan yang sangat gara - gara ada mobil plat merah dari arah berlawanan. Akhirnya kami memilih keluar melalui jalur Jarak yang lebih jauh.Kami pun selamat sampai sekolah jam 11.30. Mobil Elf telah sampai setengah jam sebelumnya.Puas rasanya bisa menerapkan strategi enviroment learning, puas sudah anak - anak merasakan atmosfer kenduren, puas sudah kami bisa memborong durian, Walaupun kami tidak bisa menyaksikan orang - orang berebut gunungan durian.
Bravo Kenduren Wonosalam, Bravo SDIT Al-Ummah. (titis) |